Pages

Subscribe:

Friday, August 5, 2011

Sepak Bola Usia Dini, Potensi yang Wajib Digarap


Sejak kecil ia sangat mengagumi sepak bola. Tak hanya sebagai seorang penonton setia, tapi ia juga lihai memainkan si kulit bundar itu... Hampir tiap siang sampai sore ia hadir di tengah lapangan kecil dekat rumah maupun sekolahnya... Kecintaannya pada sepak bola sangat besar.. Padahal usianya baru sekitar 5 tahun. Ia pun tak pernah absen untuk sekedar nimbrung nonton bola tengah malam dengan ayahnya... Si ayah ini tak memaksa ia untuk menyukai sepak bola, apalagi dengan cara seperti itu. Dan seiring bertambahnya usia, ternyata kegilaan terhadap bola ini makin meninggi, hingga pada akhirnya ia tergabung dalam sebuah sekolah sepak bola...

Dari situ ia mulai memahami dan merasakan sepak bola yang terlatih, dilengkapi dengan apparel lengkap dan perpaduan skill serta teknik. Memang itu yang membuat berkembang, sampailah pada suatu saat ia ikut terlibat dalam turnamen tingkat kota dan provinsi. Di sisi lain, ia adalah seorang anak biasa yang seperti pada umumnya merupakan seorang pelajar di bangku sekolah pendidikan. Hobi dan kewajiban mulai saat itu terus berjalan berdampingan...

Prestasi pun ia raih, bukan hanya dalam sekolah di bangku kelas.. tapi juga prestasi di lapangan. Gelar juara tingkat kabupaten sekaligus top scorer turnamen dua kali berturut-turut berhasil ia sumbangkan untuk mengharumkan daerah asal. Memang hanya sebatas pada level itu. Namun pencapaiannya yang berhasil masuk tim utama SSB itu tadi juga sukses menempatkan posisi juara III grup wilayah Jatim, ikut andil pula dalam juara 1 se-Kabupaten dan juara 2 se-Karisidenan. Menjuarai kompetisi-kompetisi kecil tingkat sekolah, dan membawa namanya pernah jadi bahan perbincangan dengan sering ikut menjadi bagian dari tim daerah yang lain.

Beberapa tahun berselang didapati si anak itu kini hanya seorang mahasiswa dengan background study pertanian, siapa yang membayangkan, kecilnya seperti itu maka besarnya akan jadi apa..

Menengok kepada perkembangan sepak bola dalam negeri sekarang, mungkin kasus serupa atau bahkan lebih dari itu pasti banyak ada. Misalkan seorang anak petani di daerah pegunungan, anak sebatang kara di daerah pelosok, bocah suku di pedalaman, dan bocah pencari ikan di tepi pantai.. Mereka tak sedikit yang mempunyai potensi. Bahkan kecintaannya kepada sepak bola mungkin melebihi kata hobi. Makna bekerja sama dalam satu tim, mencetak gol, dan meraih kemenangan mereka sangat sukai. Namun tak sedikit pula dari mereka yang hanya bisa sebatas itu, tak lebih. Apalagi untuk dapat menjadikan sepak bola sebagai sandaran hidup mencari uang.


Miris rasanya jutaan anak negeri bahkan lebih ini pada akhirnya tak tersalurkan bakat yang ia miliki. Jumlah penduduk yang sekian banyak ini juga sulit untuk didapatkan jagoan 11 pemain bola terlebih berharap prestasi. Sudah selayaknya sistem pencarian bakat dan pembinaan pemain usia dini sangat digencarkan dan digarap sangat serius. Selain itu perlu diperhatikan pula mengenai latar belakang sosial budaya dan pendidikannya... Agar mentalitas dapat tetap dipupuk dan dijaga...

Banyak prestasi anak negeri sekarang yang sukses menjuarai turnamen-turnamen internasional, itu bukti nyata bahwa bakat kita tak kalah dengan negara kuat manapun.. Tinggal bagaimana sistem itu untuk melahirkan kontinuitas sikap, mentalitas, skill, teknik, dan nasionalisnya....

(Sebuah Refleksi Masa Kecil, Berharap Sepak Bola Lebih Bermakna Untuk Anak Negeri)

0 comments:

Post a Comment